Masjid Agung Al-Muttaqin Cakranegara Lombok, Indonesia

Masjid Agung Al-Muttaqin

Architects: Andyrahman Architect
Area: 2800 m²
Year: 2021
Lead Architects: Andy Rahman A., IAI
Consultants: Andyrahman Architect
Architect In Charge: Reni Dwi Rahayu, Ima Niantiara Putri
Woven Bamboo Manufacturers: BYOLiving
City: Cakranegara
Country: Indonesia

Sejarah

Masjid Agung Al-Muttaqin Cakranegara didirikan pada tahun 1973 dan mengalami beberapa kali renovasi pada tahun 1992 dan 2007. Sayangnya, gempa besar terjadi di Lombok. Masjid tua yang berdiri di situs ini runtuh, kemungkinan karena konstruksinya yang berat dengan kubah beton yang besar. Pasca gempa tahun 2019, masjid baru dirancang dan mulai dibangun pada tahun 2020. Di sini, Arsitek Rahman menggunakan pendekatan yang lebih responsif, baik terhadap alam, pengguna, dan kebutuhan ruang.

Lombok juga dikenal dengan pulau seribu masjid, sehingga perancangan masjid ini perlu lebih memperhatikan tradisi, budaya, dan keseharian masyarakat setempat dengan tetap berpegang pada ketentuan syariat Islam. Berdasarkan pertimbangan tersebut, masjid ini tetap dihadirkan dalam bentuk yang lebih kekinian agar dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Baca Juga : Gedung Komersial dan Perkantoran Yanmar Tokyo

Semi Basement
1st Floor Plan
2nd Floor Plan
Front View

Konsep

Ide atap Masjid Al-Muttaqin Cakranegara, Mataram, diambil dari perpaduan dua atap. Atap tajug masjid Bayan Beleq, salah satu masjid tradisional tertua di Nusantara dipadukan dengan atap lumbung padi Sasak yang menjadi ciri khas Pulau Lombok. Ini adalah perpaduan agama dan tradisi dalam masjid kontemporer. Atapnya berwarna hitam, dan konstruksinya ringan sehingga lebih aman jika terjadi gempa berikutnya. Kemudian bukaan masjid juga berbentuk lumbung suku Sasak yang bagian bawahnya disejajarkan kemudian meruncing ke atas hingga bertemu pada satu titik. Bentuk ini juga mengingatkan kita pada pembukaan masjid di India atau Persia.

Bedanya, masjid di sini terasa lebih ramping dan lancip. Bukaan meruncing ini menghadap ke atas dan ke bawah. Yang menghadap ke bawah (terbalik) terdapat di puncak menara monumental. Hal ini melambangkan keseimbangan antara shalat (vertikal) dan amalan ibadah (horizontal). Islam bukanlah agama ontologis yang hanya memandang Tuhan bertakhta di langit, melainkan agama membumi yang erat kaitannya dengan sisi kehidupan manusia dan kehidupan sehari-hari di muka bumi.

Detail, Ornamen, dan Bahan

Ornamen
Interior

Masjid ini juga menggunakan detail ornamen tradisional, seperti anyaman ala Lombok. Namun tenun tersebut bukan terbuat dari bahan alami (yang kini semakin sulit ditemukan) melainkan dari rotan sintetis yang lebih kuat namun tetap menunjukkan karakter lokalnya. Ornamen dinding ruang utama masjid juga diambil dari motif tenun Sasak yang distilisasi menjadi motif yang lebih sederhana dan berulang. Hal ini juga memperkuat karakter lokal sehingga lebih dikenal oleh masyarakat sekitar. Masjid bukanlah sebuah entitas asing namun mampu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Lombok.

Tata Ruang

Konsep tata ruang Masjid Al-Muttaqin didasari oleh kebutuhan akan ruang yang cukup luas terutama pada waktu-waktu tertentu (Hari Raya Idul Fitri). Jadi, posisi masjid lebih dekat ke sisi barat (menuju kiblat). Dengan posisi tersebut maka akan terbentuk halaman yang lebih luas dan dapat menampung jamaah dengan lebih maksimal jika dibandingkan dengan masjid yang diposisikan di tengah situs. Saat salat Jumat atau salat Idul Fitri, saat jemaah membludak, masjid ini masih bisa mengantisipasi membludaknya jamaah dengan baik.

Baca Juga : Rumah Mewah diJakarta

Ornamen
Ornamen

Dengan begitu, jemaah tidak membludak hingga ke luar masjid atau bahkan hingga ke jalan raya. Dengan demikian, tidak ada ruang yang terbuang karena sudah diperhitungkan dengan baik. Selain itu, arah kiblat dijadikan patokan dalam menentukan garis desain tegak lurus, mulai dari garis poros pada masjid dan garis pada elemen bangunan hingga garis pada area parkir mobil. Hal ini akan sangat berguna bila halaman depan yang luas digunakan untuk salat Idul Fitri; tidak perlu bingung lagi menentukan arah kiblat.

Ruang: Alam dan Manusia

Ruang utama masjid berbentuk persegi, dengan ruang-ruang pendukung. Ruang dalam bangunan masjid mampu menampung 1.750 jamaah. Sementara itu, ruang tambahan (ruang luar, area parkir, dll) mampu menampung 1.071 jamaah. Jadi, totalnya bisa menampung lebih dari 2.800 jamaah. Basement berfungsi sebagai ruang servis dan parkir sepeda motor. Kemudian, ruang wudhu laki-laki dan perempuan dipisah, dengan akses masuk yang terpisah. Ruang publik di masjid ini tidak menggunakan AC, berusaha memaksimalkan penghawaan alami. Dengan banyaknya bukaan di berbagai sisi bangunan, sirkulasi udara dapat berlangsung dengan baik.

Tangga
Detail ornamen

Ruang Publik dan Ikatan Sosial

Masjid Agung Al-Muttaqin juga berfungsi sebagai ikatan sosial. Anak muda lebih suka datang ke sini, berkumpul, dan bersantai di teras masjid. Mungkin karena tampilan masjid lebih terbuka terhadap perubahan. Sosok masjid ini tidak berkubah, berbeda dengan kebanyakan masjid di sekitarnya yang didominasi kubah. Selain itu, tata ruang masjid juga terbuka sehingga membuat masyarakat tidak segan-segan untuk datang. Pada akhirnya membentuk ruang publik sehingga masjid tidak menjadi bangunan eksklusif yang terpisah dari umatnya namun mampu mendekatkan dan menyatu dengan masyarakat sekitar.

Baca Juga : Gedung Pusat Kreatif dan Inovasi di Tasikmalaya

Sumber: Archdaily

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply